6 September 2026 22:00 WIB·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Mohammad Ali Yafi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Setiap tahun ribuan pelajar dan mahasiswa memperebutkan beasiswa dan program pengembangan talenta. Logikanya tampak adil. Yang paling berprestasi dianggap paling layak menerima kesempatan dan sumber daya tambahan. Ada satu pertanyaan yang jarang diajukan di meja seleksi: apakah kesempatan untuk menjadi berprestasi sejak awal sudah dibagikan secara merata?
Pertanyaan itu penting karena mengubah kemampuan menjadi prestasi membutuhkan banyak hal yang tidak dimiliki semua orang secara setara. Untuk mengumpulkan rekam prestasi, seorang anak biasanya perlu sekolah yang layak, waktu luang untuk berlatih, biaya kursus dan pelatih, ongkos transportasi ke kompetisi, informasi tentang peluang, dan keluarga yang mendukung. Anak dari keluarga mampu bisa ikut klub, les bahasa, olimpiade, dan lomba yang menghasilkan portofolio. Anak yang hidup dalam keterbatasan mungkin punya kemampuan yang sama. Namun, bisa jadi sulit punya kesempatan mengubahnya menjadi sesuatu yang diakui.
Di sinilah paradoksnya. Beasiswa prestasi memberi sumber daya tambahan kepada mereka yang sudah berhasil mengumpulkan bukti keunggulan. Padahal kemampuan mengumpulkan bukti itu sendiri dipengaruhi oleh sumber daya yang tidak merata sejak awal. Beasiswa yang tampak netral, karena ia menilai prestasi, bisa tanpa sengaja memperpanjang keunggulan yang sudah ada. Persoalannya bukan bahwa kita keliru menghargai prestasi. Menghargai prestasi itu benar. Yang keliru adalah menilai hasil akhir sebuah perlombaan dengan menganggap bahwa seolah-olah semua peserta berangkat dari titik yang sama.
Sekelompok ekonom yang dipimpin Raj Chetty menelusuri 1,2 juta penemu di Amerika Serikat dengan menautkan data paten, catatan pajak, dan nilai ujian masa kecil. Hasilnya menunjukkan bahwa anak dari keluarga satu persen terkaya sepuluh kali lebih mungkin menjadi penemu dibanding anak dari keluarga berpendapatan di bawah median. Yang paling penting, ketika mereka membandingkan anak-anak yang sama-sama bernilai matematika tinggi sejak kelas tiga SD, anak berbakat dari keluarga kaya tetap jauh lebih mungkin menjadi penemu. Kemampuan yang setara tidak menghasilkan pencapaian yang setara. Peneliti menyebut anak berbakat yang tak pernah sempat berkembang itu sebagai “Einstein yang hilang”.
Kesimpulannya bukan bahwa orang kaya lebih pintar. Bakat tersebar cukup merata di semua lapisan. Yang tidak merata adalah kesempatan untuk mengembangkannya, dan kesempatan untuk membuatnya terlihat.
Antara berbakat dan berprestasi ada jarak yang harus ditempuh, dan menempuhnya butuh biaya. Antara berprestasi dan diakui ada jarak kedua. Prestasi harus didokumentasikan, dibingkai, dan disajikan dalam bahasa yang dipahami penilai. Sertifikat dikumpulkan, esai ditulis dengan gaya yang pas, wawancara dihadapi dengan percaya diri. Sosiolog Annette Lareau menunjukkan bahwa anak kelas menengah sejak dini terbiasa berhadapan dengan orang dewasa dan merasa berhak bicara di ruang resmi. Keakraban dengan aturan main institusi itu bukan bakat. Ia diwariskan.
Pierre Bourdieu menamai apa yang diwariskan itu modal budaya, dan bentuknya bukan hanya uang. Ia hadir sebagai buku di rumah, gelar, dan kefasihan berbahasa asing yang menempel pada seseorang. Pengamatan Bourdieu sederhana tetapi menarik. Sekolah tidak membagikan modal budaya secara merata, sekolah mengandaikannya sudah ada. Anak yang datang membawa modal itu dari rumah mendapat nilai lebih tinggi, lalu keunggulan yang berasal dari ruang keluarga tampil sebagai bakat pribadi.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan baru sekitar sepertiga penduduk usia kuliah di Indonesia yang menempuh perguruan tinggi. Jika dibaca menurut kemampuan ekonomi, disparitasnya lebar. Dari kelompok pengeluaran teratas, lebih dari separuh anak sempat menempuh perguruan tinggi. Dari kelompok terbawah, angkanya kurang dari seperlima. Saringan pertama sudah bekerja bahkan sebelum urusan prestasi dimulai. Saringan berikutnya bekerja di pasar. Les persiapan ujian masuk, kursus bahasa Inggris, dan sertifikat seperti IELTS atau TOEFL adalah barang yang dibeli. Sekali tes IELTS, yang menjadi syarat beasiswa seperti LPDP, berbiaya sekitar tiga hingga empat juta rupiah, belum menghitung kursus persiapan yang bisa berlipat dari itu. Kemampuan berbahasa Inggris, yang kelak menjadi tiket menuju banyak beasiswa dan pekerjaan, lebih sering dibeli daripada sekadar dibawa dari lahir.
Indonesia sebenarnya sudah membedakan dua jenis program. KIP Kuliah, kelanjutan Bidikmisi, berbasis kebutuhan ekonomi. Ia menyasar mahasiswa dari keluarga miskin dan rentan miskin, menanggung biaya kuliah dan biaya hidup, dengan tujuan membuka akses. LPDP berbasis prestasi, kepemimpinan, dan komitmen, dan memang bukan program pengentasan kemiskinan. Ini pilihan desain yang sah, dan perlu dijaga agar tidak dipelintir. Kalimat “program ini bukan program untuk orang miskin” tidak sama dengan “orang miskin tidak boleh masuk.” Yang pertama menggambarkan tujuan. Yang kedua keliru, karena siapa pun yang memenuhi syarat boleh mendaftar dan tersedia jalur afirmasi.
Persoalan strukturalnya berdiri di atas itu. Program prestasi menilai sinyal seperti kefasihan bahasa Inggris, surat penerimaan dari kampus ternama, dan rekam kepemimpinan. Sinyal-sinyal itu aksesnya timpang. Sosiolog Samuel Lucas menyebut gejala ini sebagai ketimpangan yang dipertahankan secara efektif. Ketika akses kuliah meluas dan makin banyak orang bisa masuk, keunggulan tidak hilang, ia hanya berpindah tempat. Pembedanya bukan lagi kuliah atau tidak, melainkan kuliah di mana dan dengan penanda apa. Sebuah program bisa jujur dan bersih, lalu tetap menghasilkan penerima yang condong ke kelompok beruntung, semata karena kriteria yang dinilainya berkait dengan modal yang tidak merata. Ketimpangan di sini tidak melarang siapa pun. Ia hanya menentukan siapa yang tiba di garis awal lomba beasiswa dengan berkas yang sudah lengkap.
Ada keberatan yang layak didengar, dan tidak boleh diabaikan. Prestasi, bagaimanapun, tetap bukti kemampuan dan kerja keras. Itu benar. Prestasi bukan sinyal palsu. Ia hanya sinyal yang tercampur, memuat kabar tentang kemampuan sekaligus tentang kesempatan. Yang diminta bukan mengabaikan prestasi, melainkan membacanya dengan tahu dari mana ia datang.
Keberatan yang lebih serius menyangkut mutu. Kalau kondisi ekonomi ikut diperhitungkan, tidakkah standar keunggulan akan turun? Buktinya justru berkata sebaliknya. Ketika sejumlah universitas di Inggris menerima anak dari sekolah kurang beruntung dengan nilai sedikit di bawah standar, mahasiswa itu lulus dengan hasil yang sebanding. Prinsipnya, nilai yang sama tidak selalu mencerminkan potensi yang sama. Anak yang mencapai posisi cukup tinggi setelah mendaki jalan menanjak boleh jadi menyimpan potensi lebih besar daripada yang tampak. Membaca prestasi dalam konteks bukan menurunkan standar, melainkan mengukur potensi secara lebih jujur.
Lalu, bagaimana dengan begitu banyak orang miskin yang berhasil luar biasa? Kisah mereka nyata dan layak dihormati. Tetapi pengecualian tidak membantah pola. Merayakan mereka yang menembus keterbatasan tidak boleh membuat kita berhenti bertanya mengapa keterbatasan itu ada. Sumber daya juga tidak menjamin apa pun. Ketekunan dan minat tetap penting, dan sebagian besar perbedaan pencapaian antarmanusia tidak bisa dijelaskan oleh kekayaan. Justru karena hubungannya kuat tetapi tidak sempurna, kesimpulan yang tepat selalu soal peluang, bukan kepastian. Sumber daya menaikkan peluang seseorang berprestasi, tidak menentukan hasilnya. Mengakui bahwa struktur ikut berperan bukan berarti menyangkal usaha seseorang.
Mari kembali ke pertanyaan di awal. Persoalannya tidak pernah terletak pada penghargaan atas prestasi, karena menghargai usaha dan kemampuan memang sepatutnya. Persoalannya terletak pada kebiasaan membaca prestasi seolah semua orang berangkat dari titik yang sama. Ketidakadilan tidak selalu lahir ketika aturan lomba dibedakan. Kadang ia lahir justru ketika semua orang diukur dengan ukuran yang seragam, sementara kesempatan untuk mencapai ukuran itu tidak pernah dibagi setara. Menyadari hal ini tidak menuntut kita berhenti menghargai prestasi. Ia menuntut kejujuran untuk mengakui bahwa di balik setiap berkas yang mengesankan selalu ada kerja keras sekaligus keberuntungan yang tidak dipilih. Dari kejujuran itulah kita bisa mulai merancang penghargaan yang menimbang bukan hanya seberapa tinggi seseorang berdiri, melainkan seberapa jauh ia telah melangkah.