Perempuan lebih rentan mengalami nyeri kronis, mulai dari migrain dan fibromyalgia, hingga endometriosis dan nyeri haid. Penyebabnya bukan sekadar ambang nyeri. Para ahli menjelaskan mengapa perempuan lebih rentan dan bagaimana nyeri berkepanjangan dapat ditangani.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami nyeri kronis dibandingkan laki-laki. (Foto: iStock/AsiaVision)
Setelah lebih dari satu dekade meliput isu kesehatan, termasuk banyak tentang kesehatan perempuan, saya melihat pola yang berulang: Perempuan yang mengalami nyeri hebat sering kali menjadi sangat terbiasa menahannya.
Seorang remaja berusia 18 tahun yang pernah saya wawancarai mengalami sakit kepala kronis begitu parah hingga sebagian besar masa kecil dan remajanya dihabiskan "di rumah, menahan sakit". Perempuan lain mengungkapkan kelegaan karena akhirnya keluhan mereka dipercaya, bahkan sampai menangis saat menceritakan pengalaman mereka.
Seorang perempuan berusia 29 menangis ketika menceritakan bagaimana seorang dokter akhirnya menanggapi serius keluhannya tentang kram menstruasi hebat dan melakukan pemeriksaan. Ternyata ia mengalami endometriosis parah yang telah menyebar ke tuba falopi, usus besar, dan rektumnya.
Kisah-kisah ini membuat saya bertanya-tanya, seberapa besar rasa sakit yang selama ini dapat mereka tahan, dan mengapa nyeri berkepanjangan tampaknya lebih sering dialami perempuan.
Penelitian sejak lama menunjukkan bahwa perempuan lebih rentan mengalami sejumlah kondisi nyeri kronis, tetapi penyebabnya kompleks.
Sebuah studi global yang diterbitkan pada Oktober di jurnal Nature Medicine menemukan bahwa perempuan lebih sering melaporkan nyeri dibandingkan laki-laki di seluruh 11 bagian tubuh yang diteliti. Hasil ini didapat dengan menganalisis data lebih dari enam juta orang di 118 negara.
Studi lain yang diterbitkan pada Februari tahun ini di jurnal Science Immunology menunjukkan bahwa perbedaan biologis mungkin menjelaskan mengapa nyeri lebih lama mereda pada perempuan. Penelitian itu menemukan bahwa nyeri pada tikus betina mereda lebih lambat dibandingkan tikus jantan, serta mengidentifikasi perbedaan sel imun yang berperan menghentikan nyeri.
Pada tikus jantan, sel-sel ini lebih aktif karena kadar hormon seks seperti testosteron lebih tinggi. Sementara itu, nyeri pada tikus betina bertahan lebih lama karena monosit mereka, sejenis sel darah putih dalam sistem kekebalan tubuh, kurang aktif.
Para peneliti juga menemukan bukti pola serupa pada pasien manusia yang sedang pulih dari cedera traumatis.
"Perbedaan nyeri antara laki-laki dan perempuan memiliki dasar biologis," kata peneliti utama dr. Geoffroy Laumet dari Michigan State University dalam sebuah pernyataan. "Ini bukan sekadar perasaan Anda, dan bukan berarti Anda lemah. Penyebabnya ada pada sistem kekebalan tubuh."
"Kami juga melihat hal ini di Singapura," kata dr. Singaraselvan Nagarajan, konsultan senior sekaligus kepala Departemen Anestesi Perempuan di KK Women's and Children's Hospital (KKH).
Ia merujuk pada studi lokal yang menemukan bahwa 10,9 persen perempuan mengalami nyeri kronis, dibandingkan 7,6 persen laki-laki. Di kalangan warga Singapura berusia 60 ke atas, perempuan 1,8 kali lebih mungkin melaporkan nyeri dibandingkan laki-laki.
Namun, dr. Singaraselvan mengingatkan agar temuan ini tidak serta-merta dikaitkan dengan anggapan bahwa perempuan memiliki toleransi nyeri lebih rendah.
"Nyeri merupakan pengalaman biologis yang jauh lebih kompleks," katanya. "Perbedaan hormon, jalur sistem imun dan saraf, serta faktor psikologis dan sosial dapat memengaruhi bagaimana nyeri dirasakan dan mengapa nyeri bertahan."
Nyeri merupakan respons "lawan atau lari" (fight or flight), kata spesialis nyeri dan dokter anestesi dr. Diana Chan, direktur medis Advanced Pain Specialists.
Ketika seseorang mengalami nyeri akut yang hebat, sinyal nyeri dikirim dari bagian tubuh yang sakit ke otak, yang kemudian menganalisis karakteristik dan lokasi nyeri, jelas dr. Chan.
"Sinyal nyeri berfungsi sebagai peringatan agar tubuh menjauh dari sumber nyeri atau membantu otak mengenali bahwa ada sesuatu yang tidak beres dalam tubuh," jelasnya.
International Association for the Study of Pain mendefinisikan nyeri sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, yang berkaitan dengan atau menyerupai pengalaman akibat kerusakan jaringan yang nyata maupun berpotensi terjadi.
Definisi tersebut telah diperluas dengan mengakui nyeri sebagai pengalaman pribadi yang dipengaruhi faktor biologis, psikologis, dan sosial dalam kadar berbeda-beda, kata dr. Tay Yoong Chuan, konsultan tamu sekaligus direktur KKH Women's Pain Centre.
Dr. Tay juga merupakan konsultan senior di departemen kedokteran nyeri Singapore General Hospital.
Dengan kata lain, nyeri bukan sekadar sinyal dari bagian tubuh yang cedera. Dua orang dengan cedera serupa bisa merasakan nyeri secara berbeda.
Misalnya, patah tulang mengirimkan sinyal nyeri hebat ke otak sehingga tubuh menghindari gerakan pada bagian yang cedera. Namun, terkadang sinyal peringatan ini terus muncul lama setelah tulang sembuh.
"Ketika nyeri berlangsung melampaui masa penyembuhan jaringan, sekitar tiga bulan, dan memengaruhi aktivitas sehari-hari, suasana hati, atau kualitas hidup, nyeri menjadi kronis dan mungkin menandakan gangguan pada sistem respons nyeri, bukan lagi berfungsi sebagai perlindungan," kata dr. Chan.
KKH Women's Pain Centre menangani sekitar 100 konsultasi pasien baru dan lanjutan setiap tahun untuk berbagai kondisi terkait nyeri, kata dr. Tay.
Pasien dapat mengalami nyeri kronis pada punggung dan anggota tubuh, nyeri perut, sakit kepala, serta nyeri setelah trauma.
Menurut dr. Chan, sejumlah kondisi nyeri lebih sering ditemukan pada perempuan, termasuk fibromialgia, migrain, sakit kepala tegang, sindrom iritasi usus besar, artritis reumatoid, osteoartritis, serta kondisi khusus perempuan seperti endometriosis dan nyeri haid.
Salah satu pengalaman paling membuat frustrasi bagi orang yang hidup dengan nyeri adalah ketika mereka diberi tahu bahwa tidak ada masalah, terutama jika hasil pemindaian tidak menunjukkan kelainan.
"Hal pertama dan terpenting adalah memercayai pasien ketika ia mengatakan sedang kesakitan. Kita tidak boleh mengabaikan nyeri hanya karena hasil pemindaian normal," tutur dr. Singaraselvan.
Ia menjelaskan bahwa pemindaian dapat menunjukkan perubahan struktur tubuh, tetapi tidak mengukur pengalaman nyeri pasien.
Penelitian dr. Singaraselvan bersama rekan-rekannya di Departemen Anestesi Perempuan KKH, yang melibatkan perempuan yang menjalani operasi caesar, histerektomi (pengangkatan rahim), dan operasi kanker payudara, menemukan bahwa nyeri berkepanjangan tidak hanya dipengaruhi cedera jaringan awal.
Faktor lain juga berperan, termasuk nyeri yang sudah ada sebelumnya, stres, kecemasan, katastrofisasi nyeri (terus memikirkan nyeri dan membayangkan kemungkinan terburuk), serta perbedaan individu dalam memproses nyeri, katanya.
"Ini bukan sekadar soal apakah seseorang memiliki 'ambang nyeri rendah' atau tidak mampu menahan sakit. Nyeri itu nyata. Sistem saraf sendiri merupakan bagian dari proses biologis nyeri," kata dr. Singaraselvan.
Bagi seseorang yang telah lama hidup dengan nyeri, saat keluhannya dipercaya dapat menjadi langkah penting menuju penanganan yang efektif.
"Saya selalu mengakui bahwa nyeri mereka nyata agar mereka merasa keluhannya diakui, lalu menjelaskan bagaimana nyeri bekerja dalam tubuh," kata dr. Chan. "Saya juga memberi tahu mereka bahwa terkadang penyebabnya tidak ditemukan, tetapi nyeri tetap harus ditangani melalui berbagai pendekatan, bukan hanya secara biologis, melainkan juga psikologis dan sosial."
Dr. Chan menekankan bahwa umumnya tidak ada tingkat nyeri yang secara universal dianggap "wajar" untuk ditahan.
Nyeri sering diukur menggunakan skala angka nol hingga 10, dengan nol berarti tidak ada nyeri dan 10 berarti nyeri terparah yang pernah dirasakan.
"Nyeri adalah pengalaman subjektif. Skor nyeri tiga bagi seseorang bisa setara dengan skor delapan bagi orang lain," kata dr. Chan.
Dokter juga dapat menelusuri riwayat kesehatan secara menyeluruh, melakukan pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang jika diperlukan untuk mendiagnosis kemungkinan sumber nyeri.
Dr. Chan menyarankan pemeriksaan medis jika nyeri berlangsung lebih dari tiga bulan, memiliki intensitas di atas lima, atau tidak diketahui penyebabnya.
Hal yang sama berlaku jika nyeri disertai tanda bahaya seperti penurunan berat badan tanpa sebab jelas, kesulitan buang air kecil atau besar, mati rasa atau pembengkakan, demam, keringat malam, kelemahan yang semakin parah, atau perubahan signifikan dalam kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.
Menurut dr. Chan, penanganan nyeri memerlukan rencana yang ringkas dan menyeluruh, mencakup bukan hanya obat-obatan dan tindakan medis, tetapi juga perubahan gaya hidup. Pengobatan dapat berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Penanganan dapat melibatkan berbagai disiplin ilmu, termasuk spesialis nyeri atau dokter spesialis lainnya, fisioterapis, terapis okupasi, psikolog, dan ahli akupunktur, kata dr. Tay.
"Penanganan nyeri kronis belum tentu menghilangkan nyeri sepenuhnya," katanya.
Nyeri dapat bertahan meski penyebab awalnya sudah diobati, atau muncul bersamaan dengan kondisi nyeri kronis lainnya. Namun, pendekatan menyeluruh yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien sering kali dapat mengurangi nyeri dan memperbaiki kemampuan beraktivitas, tambah dr. Tay.
Bagi perempuan yang merasa keluhan nyerinya diabaikan, dr. Chan menyarankan agar mereka tetap gigih menyampaikan kekhawatirannya. Menemukan spesialis nyeri yang tepat dan membuat catatan harian nyeri untuk memantau tingkat nyeri, gejala, serta pemicunya dapat membantu mereka berkomunikasi lebih jelas dengan dokter.
Ikuti saluran untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.
We know it's a hassle to switch browsers but we want your experience with CNA to be fast, secure and the best it can possibly be.
To continue, upgrade to a supported browser or, for the finest experience, download the mobile app.