Kumia News
<- Kembali ke Daftar
Anak-anak muda ini mengurung diri selama bertahun-tahun. Kini mereka berusaha kembali ke dunia

Di balik pintu tertutup, ada kaum muda yang bukan malas atau membangkang, melainkan ketakutan. Serial Shutdown mengikuti perjalanan kaum muda tersembunyi di Singapura selagi mereka berusaha kembali terhubung dengan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Danzel Panniachelvam, yang terlihat bersama ibunya, adalah satu dari empat kaum muda yang tampil dalam Shutdown, serial yang diproduksi selama delapan bulan oleh The Moving Visuals Co. (Foto: The Moving Visuals Co)

SINGAPURA: Pertama kali Danzel Panniachelvam berusaha menghilang, ia masih duduk di sekolah dasar dan bersembunyi di bawah tempat tidurnya. Ia telah memberi tahu ibunya bahwa dirinya mengalami perundungan (bullying) di sekolah.

Ketika memasuki tahun pertama sekolah menengah, ia berhenti mengikuti pelajaran. Pada usia 19 tahun, dunianya hampir sepenuhnya menyempit menjadi apartemen keluarganya: Ia tidur sepanjang siang, bermain gim sepanjang malam, dan menghindari hampir semua kontak dengan dunia luar.

“Dia tidak ingin bertemu siapa pun,” kata ibunya, Aludia Cabigunda Panniachelvam. “Diagnosis dokter adalah depresi berat. Dia takut keluar rumah.”

Bertahun-tahun tidak banyak beraktivitas juga telah melemahkan kakinya dan memengaruhi keseimbangannya sehingga ia memerlukan fisioterapi. Namun, sekadar keluar rumah untuk menghadiri janji medis pun dapat membuatnya kewalahan.

Untuk menjangkaunya, pekerja kasus (case worker) Tan Yang Hong harus memulai dari hal kecil dan terus hadir secara konsisten dua pekan sekali selama enam bulan.

“Sebagian besar yang saya lakukan bersama Danzel adalah … mencoba berinteraksi dengannya sebanyak mungkin,” kata Tan.

Begitulah lambat dan kerap tak terlihatnya upaya untuk membantu kaum muda tersembunyi (hidden youth) di Singapura – anak-anak muda yang menarik diri bukan semata-mata karena pemalu, membangkang, atau lebih suka tinggal di rumah.

Bagi banyak dari mereka, menarik diri dari dunia menjadi cara untuk menghadapi ketakutan hingga, seiring berlalunya bulan dan tahun, hal itu mengeras menjadi cara hidup.

Lebih dikenal dengan istilah hikikomori (dari bahasa Jepang), kaum muda tersembunyi mengisolasi diri dari sekolah atau pekerjaan serta kehidupan sosial selama sedikitnya enam bulan. Sebagian tidak pernah meninggalkan kamar tidur. Sebagian lainnya dapat keluar rumah, tetapi hanya dengan didampingi orang yang dipercayai mereka.

Meski fenomena ini pertama kali dikenali di Jepang, para pekerja sosial di Singapura mengatakan mereka kini melihat semakin banyak kaum muda yang menarik diri dari pendidikan, pertemanan, dan, dalam kasus yang parah, keluarga mereka sendiri.

Fei Yue Community Services menangani 111 kasus, naik dari 20 kasus ketika lembaga tersebut mulai mendampingi kaum muda tersembunyi enam tahun lalu. Sebanyak 60 kaum muda lainnya berada dalam daftar tunggu.

Belum ada studi nasional yang menetapkan skala sebenarnya dari persoalan ini. Kini, untuk pertama kalinya, serial dokumenter Shutdown mengikuti empat kaum muda Singapura yang putus sekolah dan hidup dalam spektrum penarikan diri dari kehidupan sosial ini.

Bagi keluarga Chuah, kemajuan kerap diukur dari apakah putra remaja mereka mau keluar kamar untuk makan malam.

John (bukan nama sebenarnya) mengurung diri di kamarnya sejak November 2023 dan hanya keluar sekali atau dua kali sehari ketika semua anggota keluarga lainnya sedang tidur. Ayahnya mengatakan John bahkan membatasi jumlah air yang diminumnya agar tidak terlalu sering menggunakan toilet.

Karena itu, ketika ia keluar pada Juli tahun lalu, kedua orang tuanya merasa “sangat gembira”, tetapi juga “patah hati”. Rambutnya telah tumbuh begitu panjang hingga menutupi wajahnya seperti kerudung. Anak berusia 13 tahun yang mulai mengasingkan diri itu kini lebih tinggi, lebih kurus, dan nyaris tak dapat dikenali di usia 15 tahun.

Namun, setelah beberapa pekan makan bersama kedua orang tuanya, ia kembali menarik diri. Dan ketika membutuhkan sesuatu, ia tidak meminta. Ia memukul dinding.

“Dengan kembali ke kamarnya, dia sedang berkomunikasi dengan caranya sendiri,” kata Rauf Malachi Redza Fauzi, pekerja sosial yang mendampingi keluarga tersebut.

“Dia memberi tahu ada sesuatu yang membuatnya ingin menarik diri, karena menarik diri adalah mekanisme koping … ketika kita stres, kesal, marah, dan frustrasi.”

Bagi Shaista Qistina, mengasingkan diri tidak berarti tidak pernah meninggalkan rumah. Ketika syuting dimulai, remaja berusia 18 tahun itu sudah mulai keluar lagi, tetapi hanya dengan ditemani anggota keluarga atau pekerja sosialnya.

Namun, ada masa ketika ia nyaris tidak mampu meninggalkan rumah. Saat duduk di jenjang awal sekolah menengah, ia muntah dalam perjalanan menuju sekolah dan bersembunyi di toilet saat istirahat. Belakangan, ia memberi tahu keluarganya bahwa dirinya dirundung.

Rambutnya menjadi pelindung. Saat berjalan, ia menundukkan kepala agar rambutnya dapat menutupi wajah.

Pekerja sosialnya, Gayle Gan, mengatakan kaum muda tersembunyi cenderung memiliki keyakinan dasar yang sama: “Dunia adalah tempat yang tidak aman bagi saya. Orang-orang selalu memandang saya dengan aneh. Saya orang yang berbeda.”

Demikian pula, meski Goay Zhen Yi, 16 tahun, dapat keluar rumah sendiri, naik bus, membeli perlengkapan seni, dan mengikuti program sosial yang diselenggarakan Fei Yue Community Services, keluar rumah tetap membuatnya takut.

“Saya takut dengan dunia luar. Saya tidak suka dilihat,” katanya. “Setiap kali dilihat, saya merasa sedang dihakimi.”

Ia menambahkan, ketika terlalu banyak orang asing memandangnya, tubuhnya bereaksi dengan sensasi seperti kesemutan.

Namun, ia jauh dari tidak tertarik pada dunia. Ia memelihara kura-kura air (terrapin), merawat tanaman, berkarya seni, dan berbicara dengan teman-temannya secara daring.

“Selalu ada kesalahpahaman tentang hikikomori atau kaum muda tersembunyi – bahwa mereka tidak banyak terlibat,” kata pekerja sosialnya, Jolia Ong. “Melalui dirinya, saya dapat melihat mereka bisa terlibat dalam banyak hal berbeda saat berada di rumah.”

Di mata orang awam, kaum muda tersembunyi dapat terlihat seperti siswa yang suka membolos. Namun, John Wong, psikiater konsultan senior di National University Hospital, menunjukkan kenyataan yang lebih kompleks.

“Mereka adalah anak-anak yang melaporkan pengalaman negatif dalam keluarga, di sekolah, atau dengan teman sebaya,” ujarnya. “Akibatnya, mereka menghindari situasi di sekolah dan menarik diri ke lingkungan rumah.”

Daniel Fung, konsultan senior di Departemen Psikiatri Perkembangan Institute of Mental Health, menambahkan: “Kompleksitas dunia dan apa yang diwakilinya menimbulkan banyak kecemasan … pada kaum muda kita.

“Menghindari semua inilah yang mungkin direpresentasikan oleh hikikomori.”

TONTON: Hikikomori in Singapore — What happens when teens shut out the world? (46:19)

Ikuti saluran untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

We know it's a hassle to switch browsers but we want your experience with CNA to be fast, secure and the best it can possibly be.

To continue, upgrade to a supported browser or, for the finest experience, download the mobile app.

<- Kembali ke Daftar
Powered by Multi-Source RSS © 2026 Kumia News