Dalam bagian pertama dari seri tiga bagian tentang persoalan pendidikan di India, CNA mengulas bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan dengan lebih baik untuk mencegah kebocoran soal ujian yang memicu aksi protes mahasiswa di seluruh negeri pada Juni.
Krisis seputar kebocoran soal ujian masuk kedokteran di India memicu protes mahasiswa di seluruh negeri pada Juni. (Ilustrasi: CNA/Li Lyn Tan)
BENGALURU: Ujian masuk kuliah kedokteran di India seharusnya menentukan siapa yang kelak menjadi dokter dan menyelamatkan nyawa. Namun, tahun ini ujian itu justru merenggut nyawa sejumlah mahasiswa.
Kebocoran soal ujian masuk kuliah kedokteran terbesar di India, National Eligibility cum Entrance Test (NEET), dilaporkan menyebabkan sedikitnya 20 calon mahasiswa kedokteran bunuh diri lantaran stres, ketidakpastian dan tekanan akibat harus mengulang ujian.
Krisis seputar kebocoran soal NEET itu kemudian memicu protes mahasiswa di seluruh negeri pada Juni, pengunduran diri Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan, serta sorotan Mahkamah Agung terhadap cara National Testing Agency (NTA) menangani ujian tersebut.
Pemerintah India sejak itu membentuk satuan tugas yang dipimpin Nandan Nilekani - salah satu pendiri raksasa layanan teknologi informasi India Infosys dan arsitek proyek identitas digital Aadhaar - untuk merekomendasikan reformasi berbasis teknologi pada sistem ujian.
Namun, para pakar mengatakan bahwa kasus ini telah mengungkap persoalan mendasar tentang bagaimana satu ujian dapat membuat masa depan lebih dari 2,2 juta siswa menjadi tidak menentu.
Menurut mereka, kasus ini juga memunculkan pertanyaan yang lebih besar bagi India: Bisakah teknologi meningkatkan keamanan ujian penting seperti ini, atau sistemnya sendiri yang perlu dirombak?
Namun, sebagian pihak menilai persoalan utamanya bukan sekadar digitalisasi, melainkan apakah India dapat merombak sistem yang bergantung pada satu ujian penentu, rantai panjang pengawasan manusia dan tanggung jawab yang tersebar. Menurut para pakar, teknologi dapat mempersulit kebocoran, tetapi tidak cukup untuk memulihkan kepercayaan.
“Ujian berbasis komputer saja tidak menyelesaikan masalah integritas, tetapi hanya memindahkan titik masalahnya,” kata Wally Dalrymple, kepala keamanan Educational Testing Service (ETS), organisasi berbasis di AS yang menyelenggarakan ujian global seperti Graduate Record Examinations (GRE) dan Test of English as a Foreign Language (TOEFL).
“Negara-negara yang berhasil menangani masalah ini sudah tidak lagi berpandangan bahwa satu solusi saja dapat menyelesaikannya.”
Kebocoran soal ujian itu telah memicu penyelidikan pidana.
Lembaga investigasi kepolisian tertinggi India, Central Bureau of Investigation (CBI), dilaporkan menangkap 13 orang - termasuk tiga pakar bidang studi NTA, pengelola lembaga bimbingan belajar dan perantara - serta mengungkap apa yang disebut penyidik sebagai konspirasi lintas negara bagian.
Namun, sementara penyidik berfokus pada pelaku kebocoran, para pakar yang diwawancarai CNA menilai India perlu mengkaji mengapa satu kebocoran dalam sistem ujian bisa mengacaukan masa depan pendidikan jutaan siswa.
“Ini masalah desain,” kata mantan sekretaris Kementerian Pendidikan India R Subrahmanyam kepada CNA. “Ujian daring memang akan membantu, tetapi sistem penilaiannya perlu dilihat secara menyeluruh.”
Dalam makalah kebijakan yang diterbitkan oleh Centre for Research in Schemes and Policies (CRISP) pada Juli 2026, lembaga riset dan konsultasi kebijakan publik yang didirikan oleh mantan pejabat senior India, Subrahmanyam, mengusulkan agar ujian penentu seperti NEET diganti dengan beberapa jadwal ujian dan soal yang dibuat secara dinamis dengan tingkat kesulitan yang setara, sehingga kebocoran satu soal berdampak jauh lebih kecil.
Peneliti keamanan siber Sai Krishna mengatakan, model ujian berbasis kertas di India rentan karena soal sudah dalam bentuk final jauh sebelum peserta memasuki ruang ujian.
“Ujian nasional berbasis kertas memiliki rantai pengawasan fisik yang panjang,” katanya kepada CNA.
Penyusun soal, moderator, percetakan, penyedia jasa transportasi, tempat penyimpanan, pejabat distrik dan pusat ujian masing-masing menjadi titik rawan yang seluruhnya bergantung pada kepercayaan terhadap manusia sebelum soal akhirnya sampai ke peserta.
“Setiap serah terima menjadi titik kepercayaan terhadap manusia. Satu saja rantai itu disusupi orang dalam, maka seluruh sistem akan gagal," kata Krishna.
Krishna menjelaskan, hampir setiap kebocoran ujian besar di India berasal dari orang dalam di percetakan, pengangkutan atau tempat ujian, bukan dari serangan siber canggih.
Berbeda dengan ujian yang memberikan set soal berbeda kepada setiap peserta, ujian masuk terbesar di India bertumpu pada satu soal yang sangat dirahasiakan dan dikerjakan jutaan peserta pada hari yang sama.
Artinya, para pakar keamanan mengatakan, kebocoran satu dokumen saja dapat merusak seluruh ujian nasional.
Jika ingin mencari solusi dari negara lain, para pakar mengatakan kepada CNA bahwa India sebaiknya tidak mencari satu teknologi untuk ditiru. Sebaliknya, mereka menunjuk satu prinsip yang sama: mengurangi dampak dari satu kebocoran.
Dalrymple dari lembaga pengujian AS ETS mengatakan sistem ujian terbaik membuat pengamanan “nyaris tak terasa bagi peserta yang jujur dan mahal bagi pelaku kecurangan”.
Setiap negara menerapkan pendekatan berbeda.
China, yang memiliki ujian masuk perguruan tinggi terbesar di dunia, Gaokao, menerapkan salah satu sistem pengamanan paling ketat di dunia.
Krishna mengatakan, otoritas China memperlakukan soal ujian sebagai rahasia negara dan mengangkutnya dengan pengawasan ketat, serta menerapkan hukuman pidana berat bagi pelaku kebocoran.
Meski gaokao masih berbasis kertas, China memperlakukan soal yang belum dibagikan sebagai materi negara yang sangat rahasia. Soal dicetak di fasilitas khusus yang berwenang, disegel, dan diangkut dengan prosedur pengawasan ketat, termasuk pengawalan polisi, pelacakan kendaraan dengan GPS, dan pemeriksaan berlapis saat serah terima.
Pejabat yang terbukti membocorkan atau mencuri soal dapat menghadapi hukuman pidana yang berat.
Dalam beberapa tahun terakhir, China terus menyesuaikan pengamanan ujiannya seiring munculnya ancaman baru.
Dalam gaokao tahun ini seperti yang diberitakan Bloomberg, otoritas China bekerja sama dengan ByteDance, Tencent, Alibaba, Baidu, Moonshot AI dan DeepSeek untuk sementara menonaktifkan fitur seperti pemecahan soal lewat foto dan respons terkait ujian demi mencegah kecurangan dengan bantuan AI.
China sebelumnya juga pernah mengalami kebocoran ujian.
Pada 2015, media lokal melaporkan kebocoran soal ujian masuk program pascasarjana.
Dalam kasus lain pada 2022, seorang peserta memotret soal matematika saat ujian gaokao dan mengunggahnya ke internet hingga memicu penyelidikan polisi.
Sejak 2015, China juga menetapkan kecurangan terorganisasi dan kebocoran soal ujian sebagai tindak pidana melalui amendemen hukum pidananya, dengan ancaman hukuman hingga tujuh tahun penjara. Otoritas kemudian memperketat aturan pengawasan soal dan memperluas pemantauan di sekitar lokasi ujian negara.
Amerika Serikat mengambil pendekatan berbeda.
Ujian seperti GRE menggunakan tes berbasis komputer dengan soal yang diambil dari bank soal besar, sehingga setiap peserta mendapat versi ujian yang berbeda tetapi setara, kata Dalrymple.
Banyak ujian juga menggunakan sistem adaptif, yakni tingkat kesulitan soal berubah berdasarkan jawaban peserta sebelumnya, sehingga kebocoran satu set soal menjadi jauh kurang bernilai, tambahnya.
Krishna mengatakan India sebaiknya memadukan sistem pengawasan ketat China dengan desain ujian AS yang membuat soal yang bocor sebelum ujian menjadi kurang berguna. “Tujuannya bukan sekadar menghukum kebocoran setelah terjadi,” katanya, “tetapi merancang ujian agar satu soal saja tidak dapat merusak seluruh proses.”
Subrahmanyam, mantan menteri pendidikan India, mengusulkan sistem penilaian berkelanjutan nasional dengan menjadikan sekolah, perguruan tinggi dan politeknik sebagai jaringan pusat penilaian digital terakreditasi.
Dalam usulannya, setiap sekolah menengah atas secara bertahap akan dilengkapi dengan laboratorium komputer yang aman untuk kegiatan belajar maupun penilaian.
Alih-alih langsung mengganti ujian berbasis kertas, ia mengusulkan transisi bertahap selama sekitar satu dekade agar sekolah dapat membangun infrastruktur, melatih staf dan beralih ke penilaian digital.
Pendekatan bertahap ini juga mencerminkan besarnya tantangan yang dihadapi.
Usulan Kementerian Pendidikan India dan NTA kepada komite parlemen pada Juli menunjukkan bahwa jika NEET digelar secara daring pada 2027, ujian mungkin harus berlangsung selama lima hingga enam hari di sekitar 1.000 pusat ujian di 500 kota, dengan sekitar 500.000 peserta per hari, menurut laporan media lokal The Indian Express.
Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan logistik. Menurut para pakar, India membutuhkan cukup banyak laboratorium komputer yang aman, listrik dan koneksi internet yang andal, staf terlatih serta beberapa versi ujian yang setara untuk menjamin keadilan antarsesi.
Meski NTA telah menggelar beberapa ujian besar di pusat komputer, NEET masih berbasis kertas terutama karena jumlah pesertanya yang banyak - lebih dari 2,2 juta peserta di 5.432 pusat ujian pada 2026, tambah mereka.
Para pakar mengatakan bahwa teknologi memungkinkan India beralih dari satu set soal untuk semua peserta demi mencegah kebocoran.
“Jika Anda dapat membuat soal yang berbeda tetapi setara untuk setiap peserta, tidak ada lagi satu soal yang bernilai untuk dicuri,” kata Krishna. Namun, ia mengingatkan teknologi hanya menggeser titik serangan, dari soal fisik ke komputer, pusat ujian dan sistem digital yang digunakan untuk menyelenggarakan ujian.
“Pengelola pusat ujian, pengawas, penyedia layanan, dan ekosistem bimbingan belajar perlu mendapat perhatian yang sama besarnya dalam perancangan sistem seperti enkripsi dan pengelolaan kunci,” katanya.
Dalrymple mengatakan, hal itu pula yang dipelajari ETS selama puluhan tahun menyelenggarakan ujian penting di lebih dari 180 negara, termasuk AS, India, Jepang, Korea Selatan dan berbagai negara Eropa.
Ia mengatakan, ETS berfokus pada “arsitektur keamanan, bukan satu sistem pengamanan”—dengan terus memperbarui bank soal serta menerapkan pemeriksaan identitas, pengamanan pusat ujian, dan pemantauan secara bersamaan, sehingga “satu kebocoran tidak dapat menggagalkan seluruh ujian nasional”.
Alih-alih berupaya membangun sistem yang mustahil ditembus, program ujian yang mapan terus beradaptasi dengan ancaman baru sambil menerapkan pengamanan berlapis, kata Dalrymple.
“Kesalahan terbesar pemerintah adalah merancang sistem untuk menghadapi ancaman hari ini, bukan ancaman di masa depan,” tambahnya.
Namun, sekalipun teknologi dapat menekan kebocoran soal, hal itu tidak mengatasi masalah yang muncul akibat ketergantungan India pada ujian kompetitif yang menentukan masa depan seseorang, kata Ronojoy Sen, peneliti senior di Institute of South Asian Studies, Singapura.
“Teknologi mungkin dapat mencegah kebocoran, tetapi tidak akan mengubah ketergantungan pada ujian kompetitif dan berbagai masalah yang menyertainya,” katanya.
Ikuti saluran untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.
We know it's a hassle to switch browsers but we want your experience with CNA to be fast, secure and the best it can possibly be.
To continue, upgrade to a supported browser or, for the finest experience, download the mobile app.