Kumia News
<- Kembali ke Daftar
Lulusan bertambah, masa depan kian tak pasti: Saat anak muda India pertanyakan manfaat gelar sarjana

Dalam bagian kedua dari seri tiga bagian tentang persoalan pendidikan di India, CNA mengulas bagaimana kampus-kampus di negara itu mengimbangi perubahan dunia kerja, sementara anak-anak muda menghadapi ketidakpastian masa depan akibat kurangnya pekerjaan berkualitas.

Anak-anak muda di India khawatir kampus tidak mampu mengimbangi pesatnya perubahan pasar kerja, ketika para pemberi kerja menilai calon karyawan dari kemampuan praktis, kemampuan beradaptasi dan melek AI. (Ilustrasi: CNA/Li Lyn Tan)

BENGALURU: Bagi mahasiswa Delhi University, Shivam Kushwaha, dua ajang yang membuatnya rela bolos kuliah berangkat dari kecemasan yang sama: apakah sistem pendidikan India mampu mengimbangi laju perubahan masa depan yang akan dihadapi oleh mahasiswa.

Ajang pertama pada Februari, ketika ia menghadiri AI Impact Summit di New Delhi untuk mempelajari prompt engineering dan cara bekerja dengan kecerdasan buatan (AI) - keterampilan yang belum masuk ke kurikulum kampusnya namun menurutnya akan sangat penting.

Lima bulan kemudian, ia kembali bolos kuliah. Kali ini, ia bergabung dengan ribuan mahasiswa dalam ajang protes kebocoran soal National Eligibility cum Entrance Test (NEET), ujian masuk kedokteran terbesar di India.

“Ketika sistem tidak memadai, mahasiswa harus lebih bertanggung jawab atas masa depan mereka sendiri - entah dengan belajar di luar kelas atau turun ke jalan menuntut perubahan,” katanya kepada CNA.

Aksi protes itu memuncak dengan pengunduran diri Menteri Pendidikan India Dharmendra Pradhan pada 25 Juli. Dua hari kemudian, Parlemen India mengajukan rancangan undang-undang yang mengusulkan hukuman lebih berat, pengadilan jalur cepat dan satuan tugas khusus untuk menangani kebocoran soal ujian.

Namun, sementara para pembuat undang-undang berfokus memperketat sistem ujian, mahasiswa, pengajar dan perusahaan perekrutan mengatakan kepada CNA bahwa kebocoran soal hanyalah salah satu gejala dari persoalan yang jauh lebih besar.

“Kebocoran soal ujian hanya pemicunya,” kata Rohit Azad, profesor ekonomi di Jawaharlal Nehru University.

Menurut Azad, inti aksi protes itu adalah kekecewaan yang telah lama terpendam akibat angka pengangguran kaum muda, kenaikan biaya hidup dan menurunnya kepercayaan terhadap sistem pendidikan tinggi India.

Seiring AI mengubah dunia kerja, universitas dituntut lebih mampu mempersiapkan mahasiswa menghadapi pasar tenaga kerja yang berubah. Namun, Azad mengatakan, di tengah bertambahnya lulusan, India tidak mampu menciptakan cukup banyak pekerjaan berkualitas untuk menampung mereka.

Seperti Kushwaha, Ruhi Kabra ikut dalam aksi protes mahasiswa karena merasa apa yang dialami peserta NEET bisa terjadi pada mahasiswa mana pun.

“Kalau orang sampai kehilangan kesempatan gara-gara sesuatu yang sebodoh kebocoran soal ujian ... itu tidak adil,” kata lulusan liberal arts Ashoka University berusia 22 tahun itu.

“Masalahnya tidak pernah cuma satu. Ada begitu banyak persoalan sistemik,” tambahnya.

Bagi banyak anak muda India, pertanyaan besarnya kini bukan lagi apakah mereka bisa masuk universitas, melainkan apakah pendidikan tinggi dapat mempersiapkan mereka untuk masa depan yang mereka inginkan, kata para mahasiswa.

Menurut data pemerintah 2025, tingkat pengangguran di kalangan anak muda India berusia 15 hingga 29 tahun mencapai 9,9 persen, lebih dari tiga kali dari angka 3,1 persen untuk seluruh angkatan kerja.

Tingkat pengangguran kaum muda India turun dari 10,9 persen pada 2022 menjadi 9,9 persen pada 2025. Namun, angkanya lebih tinggi di perkotaan, mencapai 13,6 persen.

Menurut data Pemerintah India, tingkat pengangguran berpendidikan minimal sekolah menengah sekitar 6,5 persen. Sementara angka pengangguran lebih tinggi terlihat di kalangan lulusan perguruan, mencapai 11,2 persen.

Menurut para pakar, angka tersebut menunjukkan sulitnya para lulusan mendapatkan pekerjaan di India.

Setelah berinteraksi dengan lebih dari 15.000 mahasiswa di 150 kampus selama delapan tahun terakhir, pendiri platform media anak muda Yuvaa, Nikhil Taneja, mengatakan, percakapannya dengan mahasiswa telah banyak berubah.

“Tidak ada rasa aman dan tidak ada kepastian. Dari situlah kecemasan muncul,” katanya. “Anak muda terus bertanya kepada diri sendiri: ‘Apa sebenarnya manfaat pendidikan bagi saya?’”

Menurut Taneja, ketidakpastian ini juga mengubah cara mahasiswa menjalani perkuliahan.

Semakin banyak anak muda yang mencari penghasilan tambahan, mengikuti magang, mempelajari keterampilan baru secara daring dan membangun jaringan profesional sambil kuliah karena mereka tidak lagi melihat satu jalur pasti menuju kesuksesan, jelasnya.

Kushwaha, misalnya, mengatakan, program studi ilmu politik yang dijalaninya masih banyak mempersiapkan mahasiswa untuk mengikuti berbagai ujian yang sangat kompetitif di India. Namun, untuk memperluas pilihan karier, setiap dua hari sekali ia meluangkan satu hingga dua jam untuk mempelajari prompt engineering, AI generatif dan perangkat AI lainnya di luar perkuliahan.

Ia yakin keterampilan tersebut akan berguna untuk pekerjaan di bidang kebijakan, riset, dan lembaga kajian yang ingin ditekuninya setelah lulus.

“Saya tidak boleh ketinggalan gerbong AI ini,” katanya. Alih-alih menunggu kurikulum mengejar ketertinggalan, ia mempelajari keterampilan itu sendiri karena menilai sistem pendidikan tidak cukup cepat beradaptasi.

“Orang yang benar-benar mampu menanggung kegagalan hanyalah mereka yang sejak awal sudah punya modal dari keluarga,” kata Taneja. “Bagi mereka yang tidak memiliki privilese ekonomi seperti itu, tidak ada rasa aman dan kepastian. Itulah sebabnya mahasiswa dilanda kecemasan.”

Kekhawatiran mahasiswa bukan sekadar tentang apa yang mereka pelajari, tetapi apakah yang dipelajari saat ini masih akan relevan ketika mereka lulus.

Seiring AI dengan cepat mengubah pekerjaan tingkat pemula dan peluang kerja, perusahaan semakin mencari keterampilan praktis selain kualifikasi akademis, kata para pakar kepada CNA.

“Ekspektasinya telah bergeser dari ‘Apa yang diketahui kandidat?’ menjadi ‘Apa yang bisa dilakukan kandidat dengan pengetahuan yang mereka miliki?’” kata Kishore Selva Babu, Direktur Dewan Mahasiswa Christ University di Bengaluru.

Selain pengetahuan teknis, perekrut semakin mengharapkan lulusan memiliki kemampuan praktis, keterampilan komunikasi, kemampuan beradaptasi dan penguasaan perangkat AI, kata Babu.

Menurutnya, mahasiswa yang pernah magang, mengerjakan proyek industri atau dapat menunjukkan penerapan ilmu dari perkuliahan di lingkungan profesional sering kali lebih diminati dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan prestasi akademis.

Ia menambahkan, universitas di India berupaya merespons dengan studi kasus nyata, debat, proyek industri serta lebih banyak mengenalkan AI dan perangkat digital. Namun, ia mengakui perubahan kurikulum secara alami berjalan lebih lambat daripada perkembangan industri.

Kamal Karanth, pendiri bersama perusahaan perekrutan Xpheno, mengatakan, masalahnya lebih dalam daripada sekadar memperbarui kurikulum universitas.

“Tantangan program akademis sering kali terletak pada jeda antara permintaan pasar dan lulusan yang dihasilkan dunia pendidikan,” katanya.

Ketika universitas akhirnya membuka program dan sertifikasi khusus untuk memenuhi kebutuhan pasar, AI dan otomatisasi sudah lebih dulu mengubah banyak bagian industri sehingga mengurangi kebutuhan terhadap berbagai pekerjaan tingkat pemula, kata Karanth.

“Universitas harus mempersiapkan mahasiswa untuk dunia kerja masa depan yang sejak awal berbasis AI,” katanya. “Dunia akademis harus berada setidaknya tiga hingga lima tahun di depan industri dan mampu membaca perubahan industri ke depan.”

Ia menambahkan, universitas harus berpikir, merencanakan, dan bekerja seperti industri yang akan menyerap lulusannya.

Babu mengatakan, universitas harus mempersiapkan mahasiswa agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi, bukan melatih mereka untuk seperangkat keterampilan tertentu.

Artinya, perlu lebih banyak magang, proyek dunia nyata dan tugas yang terkait dengan industri agar mahasiswa belajar menerapkan pengetahuan mereka dan menggunakan teknologi baru.

Meski perusahaan masih kesulitan merekrut lulusan dengan dasar kemampuan teknis yang kuat, mereka semakin sering menyebut komunikasi, kemampuan beradaptasi, kecepatan belajar dan pemecahan masalah sebagai kekurangan terbesar lulusan baru, kata Karanth.

“Keterampilan ini kini sama pentingnya dengan kemampuan teknis,” katanya.

Membekali mahasiswa dengan keterampilan yang lebih baik dapat meningkatkan peluang mereka mendapat pekerjaan, tetapi itu saja tidak akan mengatasi keresahan yang membuat anak muda turun ke jalan, kata Azad dari Jawaharlal Nehru University.

“Ada dua sisi dalam persoalan lapangan kerja: penawaran dan permintaan,” kata Azad. Menurutnya, perdebatan selama ini banyak berfokus pada apakah universitas menghasilkan lulusan dengan keterampilan yang tepat, padahal tantangan yang tak kalah mendesak adalah perekonomian tidak menciptakan cukup banyak pekerjaan berkualitas.

Menurut perusahaan perekrutan Xpheno, perekrutan lulusan baru di industri IT India telah anjlok hampir 80 persen dari puncaknya setelah pandemi, dari lebih dari 600.000 orang pada 2022 menjadi kurang dari 150.000 orang per tahun saat ini.

Data pemerintah terbaru yang dipublikasikan untuk tahun akademik 2023-2024 menunjukkan, sekitar 11 juta mahasiswa menyelesaikan pendidikan tinggi, termasuk program sarjana dan pascasarjana, naik lebih dari 15 persen dibandingkan tahun akademik 2020-2021.

“Pasar tidak menciptakan cukup banyak peluang untuk menyerap jumlah lulusan yang terus bertambah,” kata Karanth. Menurutnya, seiring AI mengotomatisasi semakin banyak pekerjaan rutin tingkat pemula, perusahaan menjadi lebih selektif dalam merekrut dan menentukan besarnya investasi untuk melatih lulusan baru.

Azad memperingatkan bahwa kesempatan India untuk memanfaatkan besarnya populasi muda semakin menyempit. Karena itu, anak muda perlu dibekali pendidikan dan peluang kerja yang dapat mengubah keunggulan demografis tersebut menjadi pertumbuhan ekonomi.

Populasi usia kerja India (15–59 tahun) mencapai 936 juta orang pada 2024 dan diproyeksikan melampaui 1 miliar pada 2036.

“Ketika melihat teman-teman sekelas dan mahasiswa di sekitar saya, saya tidak hanya melihat mahasiswa yang khawatir soal ujian atau nilai. Saya melihat satu generasi yang tidak tahu pasti apa yang menanti mereka setelah lulus, dan bagi saya, itulah salah satu masalah terbesar yang harus diatasi sistem pendidikan kita,” tutur Kushwaha.

Menurutnya, salah satu yang perlu dibenahi adalah penerapan National Education Policy (NEP) 2020 - kebijakan reformasi pendidikan terbaru India - di universitas.

Meski kebijakan tersebut mewajibkan mahasiswa mengambil mata kuliah lintas disiplin di samping bidang studi utama, menurutnya banyak mata kuliah itu hanya diajarkan pada tingkat dasar dan tidak banyak meningkatkan peluang kerja.

“Mahasiswa saat ini menginginkan sistem pendidikan yang tidak hanya mempersiapkan mereka untuk lulus ujian,” kata Kushwaha.

“Mereka menginginkan pendidikan yang benar-benar mempersiapkan mereka untuk terjun ke dunia yang akan mereka hadapi setelah lulus.”

Ikuti saluran untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

We know it's a hassle to switch browsers but we want your experience with CNA to be fast, secure and the best it can possibly be.

To continue, upgrade to a supported browser or, for the finest experience, download the mobile app.

<- Kembali ke Daftar
Powered by Multi-Source RSS © 2026 Kumia News