Kumia News
<- Kembali ke Daftar
Abu vulkanik erupsi Anak Krakatau kacaukan penerbangan di Changi dan Soetta

Pemberitahuan maskapai yang tidak konsisten membuat sejumlah pelancong baru mengetahui penerbangan mereka dibatalkan setelah tiba di Bandara Changi, sementara penumpang di Indonesia batal terbang meski telah melewati imigrasi.

Penumpang yang terdampak pembatalan penerbangan akibat aktivitas vulkanik Gunung Krakatau mengantre di konter bantuan Singapore Airlines di Aula Keberangkatan Terminal 2 Bandara Changi, 6 Sep 2026. (FOTO: CNA/Alyssa Tan)

SINGAPURA/JAKARTA: Catrine Carina, 31, tengah hamil tujuh bulan dan hendak terbang pada Minggu (6/9) untuk melahirkan di Indonesia. Setibanya di Bandara Changi, Singapura, ia baru mengetahui penerbangannya ternyata dibatalkan.

Ia dijadwalkan terbang bersama suaminya, Weng Ming Xing. Catrine sudah mendengar bahwa sejumlah penerbangan terdampak, tetapi awalnya tidak menyangka penerbangan mereka termasuk di antara sedikitnya 19 penerbangan maskapai Singapore Airlines (SIA) yang dibatalkan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau, sekitar 180 km dari Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) di Jakarta.

Bandara Soetta merupakan hub utama Indonesia untuk penerbangan internasional dan domestik. Penghentian operasional awalnya diberlakukan hingga pukul 05.30 WIB (06.30 waktu Singapura), tetapi kemudian berulang kali diperpanjang.

Menurut pihak bandara, berdasarkan data penerbangan dari pukul 01.30 hingga 13.30 pada Minggu, sebanyak 301 penerbangan terdampak pembatalan, penundaan, pengalihan ke bandara lain, dan gangguan operasional lainnya. Dari jumlah tersebut, 233 merupakan penerbangan domestik, 58 penerbangan internasional, dan 10 penerbangan kargo.

Operasional kini dijadwalkan kembali dimulai pada pukul 22.30 waktu Singapura.

Pembatalan penerbangan itu mengacaukan rencana Catrine. Setelah melahirkan, ia semula berencana tinggal di Indonesia hingga tahun depan, sementara Weng, 29, akan kembali ke Singapura setelah satu pekan.

Namun, karena belum ada kepastian kapan penerbangan akan kembali beroperasi akibat abu vulkanik, rencana pasangan itu untuk sementara terkatung-katung.

Di dekat konter bantuan SIA di Terminal 2, Catrine mengatakan kepada CNA bahwa ia perlu mendapatkan surat keterangan medis baru yang menyatakan dirinya layak terbang, tergantung kapan penerbangan penggantinya berangkat.

Surat keterangan layak terbang bagi ibu hamil biasanya harus diterbitkan dalam waktu tujuh hingga 10 hari sebelum keberangkatan.

“Kami tadinya berpikir, penerbangannya hanya dua jam, jadi seharusnya saya tidak masalah. Tiba-tiba ini terjadi,” kata Catrine.

Ketika ditanya mengapa mereka tetap pergi ke bandara meski sudah ada kabar mengenai erupsi, Weng, yang bekerja sebagai koki, mengatakan mereka telah mengecek situs SIA dan tidak ada informasi bahwa penerbangan akan dibatalkan.

Belakangan ia baru menyadari bahwa maskapai telah mengirim SMS, tetapi pesan itu terlewat karena mereka terburu-buru berangkat ke bandara.

Sejumlah pelancong lain juga mengatakan kepada CNA bahwa mereka tidak menerima informasi apa pun dari maskapai, atau justru mendapat informasi keliru dari aplikasi SIA bahwa penerbangan mereka tetap berjalan.

Tina Seng, 47, mengatakan ia menerima pesan dari Scoot yang menyebutkan penerbangannya dibatalkan.

Namun, ia tidak yakin apakah pesan itu benar karena ia memesan tiket melalui SIA, sementara nomor referensi pemesanan dalam pesan Scoot berbeda dengan yang diberikan SIA.

Ia kemudian mengecek status penerbangan di aplikasi SIA, yang masih tercantum “confirmed” atau dikonfirmasi. Karena itu, ia tetap berangkat ke bandara bersama suami dan dua putrinya.

Keluarga itu hendak pergi ke Jakarta untuk menghabiskan libur September dengan mengunjungi keluarga Seng yang tinggal di sana.

SIA akan membantu mereka memesan ulang penerbangan. Namun, Seng, yang bekerja di bidang pemasaran, juga khawatir mereka akan terjebak di Jakarta jika situasi memburuk setelah tiba di sana.

“Itu akan menjadi masalah lain bagi kami,” katanya, mengingat anak-anaknya akan kembali masuk sekolah pada 14 Sep. “Kami masih mempertimbangkan apakah akan tetap berangkat, karena kami tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi.”

Seorang pelancong asal Singapura, Ahmad, mengatakan ia hendak berlibur ke Jakarta. Istri, anak-anak, dan mertuanya dijadwalkan menyusul pada Selasa.

Ahmad, 37, mengatakan keluarganya tidak memiliki rencana khusus di Jakarta selain menghabiskan waktu bersama selama libur September dan sebelum ia mulai bekerja di tempat barunya.

Ia sudah mendengar bahwa erupsi berdampak pada sejumlah penerbangan, tetapi tetap pergi ke bandara karena Singapore Airlines tidak memberitahunya bahwa penerbangannya telah dibatalkan.

Perwakilan maskapai di bandara mengatakan biaya transportasinya ke bandara dapat diklaim kembali selama ia menyimpan bukti pembayaran.

Sementara itu, di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pengusaha asal Tanzania Muhammad Akbar, 55, sudah sampai di gerbang keberangkatan ketika mengetahui penerbangannya ke Bangkok pada pukul 09.30 dibatalkan.

“Saya sudah diberi boarding pass, sudah melewati imigrasi. Saya bahkan sudah sampai di gerbang keberangkatan, lalu mereka memberi tahu penerbangan kami dibatalkan dan kami diminta keluar lagi,” katanya.

Ia mengatakan belum mendapat penjelasan mengenai apa yang terjadi ataupun informasi mengenai apa yang harus dilakukan.

“Saya paham ada erupsi gunung berapi, tetapi kami butuh solusi,” katanya.

Akbar hendak pergi ke Bangkok untuk perjalanan bisnis dan harus mengubah pemesanan hotel, kendaraan, serta penjemputan di bandara.

“Tapi saya tidak bisa melakukan itu tanpa ada kepastian,” katanya.

Antrean panjang mengular di Bandara Soekarno-Hatta ketika para penumpang yang telantar menunggu untuk menjadwal ulang penerbangan yang dibatalkan, mendapatkan kursi di penerbangan lain, atau meminta pengembalian dana.

Banyak yang terus terpaku pada ponsel, termasuk mereka yang mencoba menghubungi layanan pelanggan maskapai atau agen perjalanan untuk mencari alternatif.

Di bagian lain terminal, para penumpang yang sudah berjam-jam menunggu kepastian beristirahat di mana pun mereka bisa.

Sebagian terduduk di kursi dengan wajah letih, sementara yang lain duduk di lantai atau bersandar pada koper, memandangi layar keberangkatan sambil menunggu tanda-tanda kapan mereka akhirnya bisa berangkat.

Adria, seorang karyawan restoran yang bekerja di Amsterdam, Belanda, menyebut situasi tersebut “sangat merepotkan”.

Penerbangannya ke Amsterdam pada Minggu dini hari dibatalkan dan ia dialihkan ke penerbangan Emirates, tetapi belum yakin apakah penerbangan itu akan berangkat.

“Semuanya sudah diatur. Saya sampai harus menelepon tempat kerja dan juga orang yang seharusnya menjemput saya,” kata perempuan berusia 46 tahun itu.

Tiketnya dapat diganti, tetapi ia diberi tahu bahwa biaya menginap di hotel tidak akan ditanggung karena erupsi gunung berapi merupakan bencana alam.

“Ini membuat frustrasi, apalagi kalau berlangsung lama, karena situasinya jadi sangat sulit,” katanya. Adria menginap di rumah seorang teman pada Sabtu malam, tetapi mengatakan ia mungkin akan pulang ke kampung halamannya di Temanggung, Jawa Tengah, jika situasi ini berlarut-larut.

“Mungkin saya akan menjadwal ulang dan kembali lagi dalam sepekan atau berapa pun waktu yang dibutuhkan sampai situasinya membaik,” katanya.

Seorang warga Indonesia lainnya, Linda, 40, mengatakan kepada CNA bahwa ia datang ke bandara pada pukul 11.00 untuk penerbangan ke Bali pukul 13.30 meski tahu bandara ditutup, karena ingin mencoba peruntungannya.

Ia bekerja di sebuah rumah sakit di Denpasar.

“Tapi karena semuanya tidak pasti, akhirnya saya memutuskan untuk meminta pengembalian dana saja,” katanya.

Ia mendapatkan pengembalian dana setelah mengantre selama dua jam.

“Menunggunya lama, tapi menurut saya sepadan. Selain antreannya yang panjang, stafnya sebenarnya sangat membantu. Dengan mendapatkan pengembalian dana, saya jadi lebih leluasa mencari cara lain untuk kembali ke Bali.”

Kini ia akan mencoba memesan tiket kereta api ke Yogyakarta atau Semarang, Jawa Tengah, lalu mencari penerbangan ke Bali dari sana.

“Menurut saya itu lebih baik daripada tetap di sini dan menunggu tanpa kepastian kapan bandara akan dibuka kembali.”

Ikuti saluran untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

We know it's a hassle to switch browsers but we want your experience with CNA to be fast, secure and the best it can possibly be.

To continue, upgrade to a supported browser or, for the finest experience, download the mobile app.

<- Kembali ke Daftar
Powered by Multi-Source RSS © 2026 Kumia News