Kumia News
<- Kembali ke Daftar
Ketika ambisi industri Thailand dihadapkan nasib gajah liar dan kebutuhan air

Rencana pembangunan waduk di Thailand timur akan membantu memenuhi kebutuhan air industri yang terus meningkat, tetapi mengancam hutan lindung, gajah liar, dan masyarakat setempat.

Pengendara sepeda motor melintasi papan peringatan keberadaan gajah di dekat Taman Nasional Khao Sip Ha Chan, Provinsi Chanthaburi, Thailand. (FOTO: CNA/Jack Board)

CHANTHABURI, Thailand: Di tengah kawasan yang dihuni gajah liar dan hamparan perkebunan karet dengan getah putih menetes dari pepohonannya, ketegangan yang telah berlangsung puluhan tahun kini mencapai titik kritis.

Para calon biksu Buddha menyapu tanah berdebu, sementara asap mengepul dari lubang-lubang kecil tempat sampah dibakar. Kawasan ini mungkin akan segera terendam air.

Jauh di pedalaman Thailand timur, sebuah waduk raksasa baru berpotensi menenggelamkan ribuan hektare hutan, habitat satwa liar, dan lahan permukiman masyarakat perdesaan.

Rencana Waduk Khlong Wang Tanot di Provinsi Chanthaburi, sekitar empat jam berkendara ke tenggara Bangkok, akan menampung 99,5 juta meter kubik air. Proyek ini merupakan bagian dari upaya Thailand mengamankan pasokan air bagi kawasan pesisir timurnya yang berkembang pesat.

Namun, proyek yang pertama kali digagas pada 1990-an ini memicu perdebatan mengenai dampak lingkungan dan sosial dari pertumbuhan ekonomi.

Pada Agustus, kabinet Thailand menyetujui proyek tersebut dengan rencana pembangunan selama tujuh tahun. Namun, proyek ini belum bisa berjalan tanpa izin penggunaan kawasan hutan lindung Khao Sip Ha Chan, termasuk persetujuan dari Komite Taman Nasional.

Pemerintah menyatakan, bukti lingkungan terbaru masih dapat dipertimbangkan sebelum proses perizinan rampung.

Perbedaan pendapat muncul di antara lembaga pemerintah, kelompok konservasi, dan masyarakat petani mengenai apakah manfaat waduk tersebut sebanding dengan dampak lingkungan dan sosialnya.

Proyek ini menjadi ujian bagi Thailand dalam menyeimbangkan ambisi ekonomi dengan komitmen melindungi hutan, satwa liar, dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan alam.

Di antara rumah-rumah beratap seng, semak berbunga, dan pohon kelapa, kehidupan warga masih diliputi ketidakpastian.

Kepala Desa Ban Klong Yang, Seeda Saengkla, tinggal di kawasan yang direncanakan menjadi waduk. Desanya memiliki 334 rumah tangga dengan 654 penduduk.

Menurut Seeda, banyak warga bersedia menerima proyek tersebut, tetapi khawatir kehilangan rumah dan mata pencaharian tanpa kompensasi yang memadai.

"Tentu saja, meninggalkan tempat ini akan sangat menyedihkan. Namun, banyak warga desa bersedia berkorban," katanya.

"Yang mereka inginkan adalah bantuan pemerintah dan lembaga terkait agar bisa bertahan hidup setelah direlokasi. Mereka tidak ingin pindah ke tempat lain hanya untuk berakhir terlilit utang. Mereka tidak ingin merasa ditelantarkan."

Kelangkaan air bukan masalah baru di Thailand timur. Departemen Irigasi Kerajaan (RID), lembaga pemerintah Thailand, mulai meneliti daerah aliran sungai Wang Tanot pada 1990-an setelah terjadi kekurangan air parah saat musim kemarau.

Sejak itu, kebutuhan air terus meningkat. Kini, perkebunan durian yang lebih menguntungkan semakin meluas ke lahan yang sebelumnya didominasi pohon karet, sehingga kebutuhan air pun melonjak.

Thailand juga menghadapi ketidakpastian pola curah hujan. Hujan yang semakin deras dan periode kekeringan menjadi tantangan dalam perencanaan pasokan air.

Pornpimol Thongbo, petani durian di distrik Kaeng Hang Maeo, mengatakan, kebutuhan air keluarganya meningkat seiring pertumbuhan pohon durian mereka. Saat musim kemarau, mereka mengandalkan kolam penampungan dan air tanah, bahkan terkadang harus membeli air tambahan ketika curah hujan tidak mencukupi.

Menurut Pornpimol, kekurangan air bisa menyebabkan gagal panen total. Namun, ia mempertanyakan perlunya waduk baru ketika banyak petani setempat masih belum bisa mengakses air dari waduk yang sudah dibangun.

Tiga waduk telah dibangun di daerah aliran sungai tersebut. Wang Tanot akan menjadi waduk keempat sekaligus terbesar, melengkapi sistem yang dirancang untuk menjamin pasokan air pertanian dan mengurangi banjir di wilayah hilir.

Waduk-waduk ini menampung air hujan dan limpasan permukaan yang mengalir melalui daerah aliran sungai saat musim hujan, untuk digunakan selama musim kemarau.

"Sampai sekarang, kami belum melihat bukti yang bisa meyakinkan warga setempat bahwa pembangunan waduk ini benar-benar akan menguntungkan mereka," kata Pornpimol.

Thammanoon Innooch, Direktur Kantor Pembangunan Irigasi Skala Besar RID di provinsi tersebut, memperkirakan waduk baru ini akan membantu memenuhi kebutuhan air petani dan rumah tangga yang paling membutuhkan.

Hal ini membuat petani lain di kawasan tersebut semakin bersemangat mendukung pembangunan waduk.

Thammanoon mengakui bahwa penggunaan kawasan hutan lindung merupakan persoalan yang telah dipertimbangkan secara matang. Ia mengatakan, proyek ini dirancang "agar hanya menggunakan lahan di dalam taman nasional sebatas yang diperlukan".

Ia mengakui, hingga 70 juta meter kubik kelebihan air limpasan saat musim hujan nantinya dapat dialirkan setiap tahun dari daerah aliran sungai Wang Tanot ke Provinsi Rayong yang berdekatan, guna mendukung kawasan Koridor Ekonomi Timur (EEC) yang lebih luas.

Menurutnya, kebutuhan air masyarakat setempat akan dipenuhi terlebih dahulu, sementara volume air yang dialirkan bergantung pada curah hujan dan kondisi lainnya.

Kebutuhan air industri meningkat tajam sejak waduk ini pertama kali direncanakan. Permintaan diperkirakan terus bertambah seiring upaya Thailand menarik industri teknologi tinggi generasi baru.

Besarnya kebutuhan air tersebut membuat warga mempertanyakan keadilan proyek ini. Mereka merasa selama ini kerap diabaikan dalam pembagian air saat musim kemarau.

"Kalau ini demi kepentingan negara, tidak masalah," kata Pornpimol. "Tapi bisakah masyarakat setempat mendapat manfaatnya lebih dulu? Itu yang penting bagi saya."

Terlihat perubahan lanskap yang drastis jika berkendara melintasi kawasan Koridor Ekonomi Timur (EEC) Thailand yang membentang di Provinsi Chachoengsao, Chonburi, dan Rayong.

Desa-desa nelayan, sawah, dan perkebunan yang dulu mendominasi kini berganti dengan jalan tol multilajur yang membelah kawasan industri, menghubungkan pelabuhan laut dalam, pembangkit listrik, dan pabrik manufaktur.

Belakangan, ledakan pembangunan pusat data juga merambah kawasan EEC.

Menurut data pemantauan industri, tiga fasilitas besar sudah beroperasi atau tengah diperluas, sementara sembilan lainnya sedang dibangun.

Data pemerintah juga menunjukkan bahwa 29 proyek pusat data telah mengajukan permohonan insentif investasi di EEC, mencakup separuh lebih dari pengajuan serupa di Thailand.

Thailand melihat perkembangan ini sebagai peluang untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi, menarik investasi, dan menciptakan lapangan kerja berketerampilan tinggi. Hal ini seiring bergesernya proyek-proyek dari pasar yang lebih terbatas, seperti Singapura dan Malaysia, kata Kwankamol Chittrakul, insinyur sipil sekaligus pakar pengelolaan sumber daya air.

Menurut Kwankamol, para pengembang kini memanfaatkan peluang sebelum Thailand memberlakukan aturan lingkungan yang lebih ketat bagi pusat data.

"Ini masa keemasan. Kalau tidak dilakukan sekarang, ke depannya akan lebih sulit," katanya.

Pemerintah Thailand saat ini tengah menyusun aturan baru bagi pusat data untuk memperketat pengawasan terhadap konsumsi air dan listrik, dampak lingkungan, serta lokasi pembangunannya.

Namun, pusat data berskala sangat besar (hyperscale) menambah kebutuhan air yang harus dipenuhi di tengah persaingan dengan sektor pertanian, rumah tangga, dan industri konvensional.

Pusat data membutuhkan daya komputasi sangat besar yang menghasilkan panas, sehingga memerlukan sistem pendingin. Tergantung teknologi yang digunakan, fasilitas ini bisa mengonsumsi air dalam jumlah besar.

Menurut Kantor Sumber Daya Air Nasional Thailand, kebutuhan air industri di EEC diperkirakan meningkat 58 persen antara 2024 dan 2037.

Bank Dunia memperkirakan, total kebutuhan air tahunan di tiga provinsi EEC akan mencapai 3,6 miliar meter kubik pada 2037.

Bank Dunia juga memperingatkan kawasan ini berpotensi mengalami defisit pasokan air hampir 40 persen dalam kondisi normal, bahkan mencapai 72 persen pada tahun-tahun kering, meski investasi infrastruktur air yang direncanakan telah direalisasikan.

Di tengah ketidakpastian pasokan, ketersediaan air justru aktif dipromosikan untuk meyakinkan calon investor.

East Water, salah satu pemasok air utama di kawasan tersebut, mulai memasok air ke Bridge Data Centres di Chonburi pada Mei. Perusahaan ini menawarkan jaminan pasokan tanpa gangguan sebagai keunggulan kompetitif bagi pertumbuhan ekonomi digital Thailand.

WHA Utilities and Power menyatakan tahun ini bahwa pusat data bisa membutuhkan air 12 hingga 16 kali lebih banyak dibanding pelanggan bisnis konvensional. Perusahaan tersebut tengah memperluas infrastruktur air dan mengejar kontrak baru dengan volume puluhan juta meter kubik per tahun untuk memenuhi kebutuhan itu.

Para pengembang kawasan industri juga memperluas waduk, jaringan pipa, dan fasilitas pengolahan air untuk melayani pelanggan baru.

Bahkan lembaga pengelola EEC mengakui tantangan yang semakin besar ini. Rencana pengembangan berikutnya akan lebih menekankan pengamanan pasokan air dan listrik bagi industri teknologi tinggi yang terus berkembang di kawasan tersebut.

Wang Tanot merupakan salah satu proyek infrastruktur air yang dirancang untuk memperkuat pasokan di Thailand timur, seiring kebutuhan air industri yang diperkirakan terus meningkat.

Somnuck Jongmeewasin, direktur riset organisasi masyarakat sipil EEC Watch, mempertanyakan mengapa Thailand terus berfokus mencari sumber air baru alih-alih mengelola pasokan yang sudah ada dengan lebih baik.

Menurutnya, peningkatan daur ulang air industri, irigasi yang lebih efisien, dan perbaikan distribusi dapat mengurangi tekanan terhadap sumber daya air, sekaligus memastikan masyarakat setempat mendapat bagian yang adil sebelum air dialihkan ke industri.

Ia juga memperingatkan bahwa perluasan pasokan air industri oleh perusahaan swasta dapat merugikan masyarakat lantaran meningkatnya persaingan memperebutkan sumber daya air.

"Semua pusat data punya uang. Mereka bisa membeli listrik. Mereka bisa membeli air. Tapi masyarakat setempat tidak mampu," katanya. "Jadi, perebutan air ini tidak adil."

Sejumlah alternatif pengganti Waduk Wang Tanot telah diusulkan. Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tumbuhan (DNP) untuk mendorong pembangunan waduk Wang Tanot dengan skala jauh lebih kecil, yang hanya akan menggenangi sekitar 112 hektare taman nasional.

Usulan ini dipadukan dengan pembangunan waduk-waduk kecil, peningkatan kapasitas tampung bendungan yang sudah ada, dan pengelolaan air yang lebih efisien.

Thammanoon mengatakan, langkah-langkah tersebut dapat membantu, tetapi tidak akan menyediakan cukup air untuk memenuhi kebutuhan yang diproyeksikan.

Kantor EEC kini bekerja sama dengan Bank Dunia untuk memperluas pemanfaatan air limbah, terutama dari industri, guna mengurangi ketergantungan pada sumber air alami.

Kerja sama ini juga mencakup peningkatan efisiensi penggunaan air dan pengelolaan kebutuhan untuk memperkuat ketahanan pasokan di EEC.

Kembali ke Wang Tanot, upaya menambah pasokan air mengancam sumber daya lain yang semakin langka: ruang hidup gajah liar.

Di luar Desa Ban Klong Yang, terbentang perbukitan kecil berpohon yang tersebar di antara hamparan hutan lebat. Kawasan ini sejuk dan teduh, dengan celah-celah di antara semak serta jalan tanah yang kerap dilalui kawanan gajah.

Taman nasional dan kawasan sekitarnya merupakan bagian dari koridor penting satwa liar yang digunakan lebih dari 100 gajah untuk mencari makan dan air, serta berpindah tempat mengikuti musim.

Sebagai bagian dari Kompleks Hutan Timur Thailand, kawasan ini menghubungkan sejumlah hutan lindung yang lebih luas. Namun, saat musim kemarau, gajah-gajah berkeliaran lebih jauh dan semakin sering memasuki lahan pertanian untuk mencari makan, kata Supakarn Kaewchot, dokter hewan senior di DNP.

"Jika waduk ini mengganggu jalur mencari makan yang sudah ada, gajah-gajah harus mencari rute baru untuk mencapai sumber makanan," katanya.

Terendamnya kawasan mencari makan dan jalur pergerakan gajah dikhawatirkan membuat satwa tersebut semakin sering berhadapan dengan manusia, kata Rattanawat Chaiyarat, profesor madya di Fakultas Lingkungan dan Studi Sumber Daya Universitas Mahidol.

"Pertanyaannya, ke mana mereka akan pergi jika seluruh kawasan di sekitar Kompleks Hutan Timur sudah digunakan untuk pertanian dan industri?" katanya.

Konflik antara manusia dan gajah di wilayah timur "sudah cukup parah". Menurut Rattanawat, belum jelas sejauh mana masyarakat setempat mampu menghadapi peningkatan interaksi dengan gajah di masa depan.

Gajah mengandalkan ingatan yang diwariskan antargenerasi untuk menemukan kawasan mencari makan sesuai musim. Perubahan jalur tersebut dapat mengganggu kekompakan kawanan dan struktur kepemimpinannya, kata Padet Siridumrong, dokter hewan yang menangani satwa besar dan satwa liar.

"Ketika struktur kawanan runtuh, gajah akan berpencar menjadi kelompok-kelompok kecil dan memasuki lahan pertanian, sehingga konflik terus berulang. Akibatnya, dana akan terus dikeluarkan untuk program penanganan tanpa menyelesaikan akar masalah," kata Padet, direktur Rumah Sakit Hewan Nern Plub Wan di Chonburi.

RID mengakui hilangnya habitat dapat meningkatkan risiko gajah memasuki lahan pertanian dan permukiman. Namun, Thammanoon mengatakan, waduk tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan air jangka panjang.

RID juga telah memasukkan langkah-langkah untuk memantau pergerakan satwa liar dan menjaga keterhubungan habitat.

Silchai Sae Jia, petani karet berusia 73 tahun, sudah kewalahan menghadapi gajah-gajah tersebut.

Gajah kerap melintasi perkebunannya, merobohkan pohon dan membuat para pekerja ketakutan. Menurut Silchai, sebagian pekerja bahkan berhenti bekerja di sana karena bahaya tersebut.

Lahannya tidak akan terendam waduk, tetapi ia khawatir hilangnya habitat gajah di sekitarnya akan membuat tempat tinggalnya tak lagi layak dihuni.

"Sebagian orang mungkin bilang saya beruntung. Mereka mungkin bilang saya akan mendapat pemandangan waduk yang indah, pemandangan senilai sejuta baht. Tapi saya tidak melihatnya seperti itu. Saya rasa saya tidak akan bisa tinggal di sini lagi," katanya.

Silchai memahami keinginan Thailand untuk terus berkembang. Namun, ia mempertanyakan siapa yang akhirnya harus menanggung dampak dari ambisi tersebut.

"Pembangunan kalian seharusnya tidak mengorbankan orang-orang seperti saya," katanya. "Jangan jadikan pundak kami sebagai pijakan untuk meraih kemakmuran kalian."

Ikuti saluran untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

We know it's a hassle to switch browsers but we want your experience with CNA to be fast, secure and the best it can possibly be.

To continue, upgrade to a supported browser or, for the finest experience, download the mobile app.

<- Kembali ke Daftar
Powered by Multi-Source RSS © 2026 Kumia News