Kumia News
<- Kembali ke Daftar
Kolesterol tinggi sering tanpa gejala, kenali 4 tandanya

Petugas medis memasang Elektrokardiogram (EKG/ECG) atau alat rekam medis jantung kepada warga yang mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis dalam rangka kegiatan bakti kesehatan di halaman Rumah Sakit Undata Palu, Sulawesi Tengah, Minggu (30/8/2026). Kegiatan bakti kesehatan memperingati HUT ke-54 RSUD Undata Palu itu memberikan layanan berupa pemeriksaan tekanan darah, kolesterol, asam urat, gula darah, kesehatan jantung, dan penyakit dalam. ANTARA FOTO/Muhammad Rifki Hasan/bar/nym. Jakarta (ANTARA) - Kolesterol tinggi sering disebut sebagai salah satu masalah kesehatan yang perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke. Namun, kondisi ini kerap tidak disadari karena sebagian besar penderitanya tidak merasakan keluhan khusus.

Banyak orang baru mengetahui kadar kolesterolnya meningkat setelah menjalani pemeriksaan darah atau ketika mengalami komplikasi. Padahal, penumpukan kolesterol di pembuluh darah dapat berlangsung secara perlahan tanpa menimbulkan tanda yang mudah dikenali.

Lantas, apa saja gejala kolesterol tinggi yang perlu diwaspadai?

Secara umum, kolesterol tinggi atau hiperkolesterolemia tidak menimbulkan gejala yang khas. Artinya, seseorang bisa memiliki kadar kolesterol tinggi meskipun merasa sehat dan tetap menjalankan aktivitas seperti biasa.

Satu-satunya cara untuk mengetahui kadar kolesterol secara pasti adalah melalui pemeriksaan darah, biasanya berupa tes profil lipid. Pemeriksaan ini mengukur kolesterol total, LDL atau kolesterol jahat, HDL atau kolesterol baik, serta trigliserida.

Meski begitu, terdapat beberapa kondisi yang dapat menjadi tanda adanya penumpukan lemak dalam tubuh atau komplikasi akibat gangguan aliran darah. Berikut beberapa tandanya

Salah satu tanda yang terkadang ditemukan pada orang dengan kadar lemak darah sangat tinggi adalah munculnya benjolan atau endapan kekuningan yang disebut xantoma.

Benjolan tersebut terbentuk akibat penumpukan lemak di bawah kulit. Biasanya, kondisi ini dapat muncul di sekitar siku, lutut, tangan, atau bagian tubuh lainnya.

Selain itu, terdapat xanthelasma, yaitu endapan kekuningan yang muncul di sekitar kelopak mata. Meski demikian, kemunculannya tidak selalu berarti seseorang memiliki kolesterol tinggi sehingga tetap memerlukan pemeriksaan medis.

Nyeri dada dapat menjadi tanda komplikasi ketika penumpukan plak kolesterol mempersempit pembuluh darah yang memasok darah ke jantung.

Kondisi tersebut dapat menyebabkan angina, yaitu nyeri atau rasa tertekan di dada akibat otot jantung tidak mendapatkan pasokan darah yang cukup.

Keluhan ini tidak boleh dianggap sebagai tanda biasa, terutama jika disertai sesak napas, keringat dingin, mual, atau nyeri yang menjalar ke lengan dan rahang. Segera cari pertolongan medis jika mengalami gejala tersebut.

Penumpukan plak juga dapat terjadi pada pembuluh darah yang mengalirkan darah menuju kaki. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit arteri perifer.

Salah satu keluhannya adalah rasa nyeri, kram, atau pegal pada kaki ketika berjalan atau beraktivitas. Rasa tidak nyaman tersebut biasanya berkurang setelah beristirahat.

Jika sering mengalami keluhan seperti ini, sebaiknya lakukan pemeriksaan untuk mengetahui apakah terdapat gangguan aliran darah.

Kolesterol LDL yang tinggi dapat berkontribusi terhadap pembentukan plak di pembuluh darah. Jika aliran darah menuju otak terganggu atau tersumbat, seseorang dapat mengalami stroke.

Gejalanya antara lain wajah tampak tidak simetris, kelemahan mendadak pada salah satu sisi tubuh, kesulitan berbicara, gangguan penglihatan, hingga kehilangan keseimbangan.

Gejala stroke merupakan kondisi darurat yang membutuhkan penanganan segera. Jangan menunggu keluhan membaik dengan sendirinya.

Bagaimana cara mengetahui dan mencegah kolesterol tinggi?

Karena sering tidak menunjukkan gejala, pemeriksaan kolesterol secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi kondisi ini sejak dini.

Risiko kolesterol tinggi dapat dipengaruhi oleh pola makan tinggi lemak jenuh, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, berat badan berlebih, faktor usia, hingga riwayat keluarga.

Untuk membantu menjaga kadar kolesterol, masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memperbanyak serat dari sayur dan buah, rutin berolahraga, menjaga berat badan, serta menghindari rokok, demikian mengutip CDC dan sumber-sumber lain.

Pewarta: Raihan FadilahEditor: Suryanto Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

<- Kembali ke Daftar
Powered by Multi-Source RSS © 2026 Kumia News