Kumia News
<- Kembali ke Daftar
Dokter larang bayi diberi makanan sebelum berusia 6 bulan

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Prof. Dr.dr. Pramita Gayatri,Sp.A, Subsp.GH (K) dalam wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Selasa (3/11). ANTARA/Sinta. Jakarta (ANTARA) - Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, Prof. Dr.dr. Pramita Gayatri, Sp.A, Subsp.GH (K) mengimbau masyarakat tidak lagi memberikan makanan bagi bayi yang belum memasuki masa Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau berusia 6 bulan.

“Sebaiknya bayi ketika lahir sampai usia enam bulan diberikan ASI atau diberikan susu formula. Namun ada beberapa daerah di mana biasanya dilakukan oleh nenek dari bayi diberikan pisang paling sering, kemudian bisa juga nasi dan sebagainya. Saya mengimbau agar hal itu tidak dilakukan lagi,” ujar Prof Pramita dalam sesi wawancara dengan ANTARA di Jakarta, Selasa.

Dokter yang berpraktik di RSCM Jakarta itu menambahkan bahwa kasus bayi diberikan makanan bukanlah hal baru, bahkan ada beberapa orang yang memberikan pisang dengan cara disendok, kemudian melumatkan nasi atau makanan di mulut nenek kemudian baru diberikan kepada bayi.

Pasalnya, bayi yang belum memasuki usia mendapatkan MPASI dapat menyebabkan gangguan pada saluran cerna sehingga pada kondisi yang parah, terpaksa dapat dilakukan tindakan dengan cara dioperasi.

“Jadi hal ini sangat berbahaya, terutama bagi-bayi. Dan kalau sampai harus dioperasi dalam usia muda, tidak mudah untuk penyembuhannya. Kenapa? Karena biasanya ada gangguan dari saluran cerna, sehingga berdampak pada tumbuhnya. Karena ada perlukaan, dia nyeri, biasanya minum susu ataupun asinya juga kurang baik. Jadi tidak berhasil (menyerap nutrisi),” jelasnya lagi.

Selain itu, kata dia, kondisi bayi dapat diperparah dengan adanya banyak muntah, karena makanan menumpuk di lambung dan mampu melukai dinding-dinding lambung atau erosi.

Persoalan tersebut lantas mampu mengganggu ketidakseimbangan ekosistem yang ada di saluran cerna yang berakibat pada infeksi berat.

“Jadi beberapa bayi yang datang ke rumah sakit, RSUD ataupun RSCM di mana merupakan pusat rujukan nasional, ada yang tidak tertolong walaupun mayoritas tertolong. Ini fenomena gunung es yang bahaya sedikit di atas, tapi nanti yang mengganggu penyerapan karena perlukaan itu jauh lebih banyak. Mungkin tidak sampai perutnya kembung dan sebagainya, tapi sudah mengganggu mekanisme pencernaan,” pungkasnya.

Pewarta: Sinta AmbarwatiEditor: Mahmudah Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.

<- Kembali ke Daftar
Powered by Multi-Source RSS © 2026 Kumia News