Ilustrasi - Seseorang menggunakan aplikasi DeepSeek di ponsel. ANTARA/Xinhua/Huang Zongzhi/am. Jakarta (ANTARA) - Chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) semakin sering digunakan sebagai tempat bercerita dan mencari dukungan emosional. Namun, membagikan masalah pribadi kepada chatbot tetap memiliki risiko, terutama terkait privasi data dan keandalan respons.
Kemampuan chatbot dalam merespons percakapan dengan bahasa yang natural membuat pengguna dapat merasa lebih nyaman ketika menceritakan persoalan pribadi. Topik yang dibahas pun bisa sangat beragam, mulai dari masalah pekerjaan, hubungan, keluarga hingga kondisi kesehatan mental.
Meski dapat menjadi sarana untuk mendapatkan informasi atau membantu seseorang menyusun pikiran, chatbot bukan pengganti teman, keluarga, psikolog, psikiater atau tenaga kesehatan profesional.
Percakapan dengan AI bukan ruang curhat tanpa risiko
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah informasi yang diberikan kepada chatbot dapat bersifat sangat sensitif.
Pengguna terkadang menceritakan nama lengkap, alamat, masalah keluarga, kondisi kesehatan, hubungan pribadi hingga persoalan pekerjaan tanpa menyadari bahwa informasi tersebut merupakan data pribadi.
Kajian yang diterbitkan di Nature Computational Science pada 2025 menyoroti bahwa penggunaan AI untuk kesehatan mental membawa persoalan privasi, termasuk bagaimana data sensitif dikumpulkan, disimpan dan diproses. Peneliti juga menekankan pentingnya pendekatan yang menjaga privasi dalam pengembangan model AI untuk kesehatan mental.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak menganggap kolom percakapan chatbot sama dengan ruang konsultasi profesional yang memiliki aturan kerahasiaan khusus.
AI bisa memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan
Risiko lainnya adalah chatbot dapat menghasilkan jawaban yang terdengar masuk akal tetapi belum tentu benar.
Hal ini menjadi lebih penting ketika pengguna menceritakan masalah kesehatan mental dan meminta AI memberikan diagnosis atau menentukan tindakan yang harus dilakukan.
Kajian terbaru di npj Digital Medicine yang meninjau 119 artikel mengenai potensi dampak buruk chatbot berbasis large language model (LLM) menemukan sejumlah persoalan, termasuk informasi yang keliru, respons yang terlalu menyetujui pengguna, bias, persoalan keamanan data serta risiko ketika chatbot digunakan dalam kasus kesehatan mental yang berat.
Artinya, respons yang terasa empatik belum tentu menunjukkan bahwa chatbot memahami kondisi pengguna secara klinis.
Jangan menjadikan AI sebagai pengganti profesional
AI dapat membantu seseorang mencari informasi awal, merapikan pikiran atau menemukan pertanyaan yang ingin dibawa ketika berkonsultasi dengan profesional.
Namun, pengguna sebaiknya tidak menjadikan chatbot sebagai satu-satunya tempat mencari pertolongan ketika menghadapi masalah serius.
Penelitian yang diterbitkan Scientific Reports pada 2025 menguji 29 chatbot yang mengklaim dapat membantu persoalan kesehatan mental dalam skenario yang berkaitan dengan risiko bunuh diri. Tidak ada satu pun yang memenuhi kriteria awal untuk memberikan respons yang dianggap memadai, sementara hampir separuh dinilai tidak memadai berdasarkan kriteria yang lebih longgar.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemampuan chatbot dalam percakapan sehari-hari tidak otomatis membuatnya aman digunakan untuk menangani kondisi kesehatan mental yang membutuhkan intervensi profesional.
Kemampuan AI untuk merespons dengan cepat dan menggunakan bahasa yang terasa personal juga dapat membuat sebagian pengguna semakin nyaman berinteraksi dengannya.
Kajian di Nature Machine Intelligence menyoroti kekhawatiran mengenai keterikatan emosional dan ketergantungan terhadap AI companion, terutama pada pengguna yang rentan.
Penelitian yang diterbitkan Nature Human Behaviour pada Agustus 2026 juga meneliti hubungan penggunaan AI companion dengan kesejahteraan psikologis berdasarkan data 1.131 pengguna dewasa di Amerika Serikat serta ribuan sesi percakapan. Penelitian tersebut menunjukkan pentingnya memahami pola penggunaan dan hubungan emosional yang terbentuk antara pengguna dengan AI.
Karena itu, menggunakan AI untuk berbicara sesekali berbeda dengan menjadikannya sebagai satu-satunya sumber dukungan emosional.
Untuk mengurangi risiko, pengguna sebaiknya membatasi informasi pribadi yang dimasukkan ke dalam chatbot.
Hindari memasukkan data seperti nomor identitas, alamat lengkap, nomor telepon, kata sandi, informasi rekening, data kartu pembayaran, dokumen pribadi serta informasi kesehatan yang sangat sensitif jika tidak benar-benar diperlukan.
Untuk bercerita mengenai suatu masalah, identitas dapat disamarkan. Misalnya, nama orang, perusahaan, sekolah atau lokasi spesifik dapat diganti dengan istilah umum.
Dengan cara tersebut, pengguna tetap dapat meminta bantuan untuk memahami suatu persoalan tanpa memberikan terlalu banyak informasi yang dapat mengidentifikasi dirinya atau orang lain.
Setiap layanan AI dapat memiliki kebijakan berbeda mengenai bagaimana percakapan dan data pengguna diproses.
Karena itu, sebelum menggunakan chatbot untuk persoalan sensitif, pengguna sebaiknya membaca kebijakan privasi dan pengaturan data layanan yang digunakan.
Hal ini semakin penting karena penelitian terbaru mengenai chatbot kesehatan mental menempatkan keamanan data dan privasi sebagai salah satu kelompok risiko utama yang perlu diperhatikan.
Pengguna juga perlu memahami fitur yang tersedia pada layanan tersebut, termasuk pilihan pengelolaan riwayat percakapan atau data, jika tersedia.
Bukan berarti chatbot sama sekali tidak boleh digunakan untuk bercerita.
AI dapat dimanfaatkan untuk membantu menyusun pikiran, membuat jurnal refleksi, mencari informasi umum, menyiapkan pertanyaan sebelum berkonsultasi dengan profesional atau sekadar mendapatkan sudut pandang awal.
Namun, pengguna perlu mempertahankan batas yang jelas. Jangan memberikan informasi pribadi yang tidak diperlukan dan jangan menganggap jawaban chatbot sebagai diagnosis atau keputusan profesional.
Sejumlah perusahaan AI juga mulai mengembangkan fitur keselamatan untuk menghadapi percakapan sensitif. OpenAI, misalnya, pada 2026 memperkenalkan fitur Trusted Contact sebagai lapisan tambahan yang dapat membantu menghubungkan pengguna dewasa dengan orang yang mereka percaya ketika sistem mendeteksi adanya pembicaraan mengenai tindakan menyakiti diri dengan tingkat kekhawatiran keselamatan yang serius.
Meski demikian, fitur keselamatan tersebut tetap bukan pengganti bantuan manusia dalam situasi darurat.
Dengan demikian, curhat kepada chatbot dapat dilakukan untuk persoalan ringan, tetapi sebaiknya tidak dilakukan dengan membagikan seluruh informasi pribadi tanpa pertimbangan.
Prinsip sederhananya adalah anggap setiap informasi yang diketik sebagai sesuatu yang perlu dipikirkan kembali sebelum dikirim. Samarkan identitas, jangan masukkan data sensitif yang tidak diperlukan dan selalu verifikasi informasi penting dari sumber tepercaya.
Untuk persoalan kesehatan mental yang serius, terutama ketika muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain, bantuan manusia tetap menjadi prioritas. Hubungi orang yang dipercaya, tenaga kesehatan atau layanan darurat setempat.
Pada akhirnya, AI dapat menjadi alat bantu untuk berbicara dan mencari informasi, tetapi rasa nyaman saat berbicara dengan chatbot tidak selalu berarti percakapan tersebut sepenuhnya aman, rahasia, atau akurat. Pengguna tetap perlu menjaga privasi dan mengetahui batas kemampuan teknologi tersebut.
Pewarta: M. Hilal Eka Saputra HarahapEditor: Maria Rosari Dwi Putri Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
Komentar menjadi tanggung-jawab Anda sesuai UU ITE.